Senin, 21 September 2009

BELAJAR DARI EMUA COBAANMU

Bosan menjadi diriku lagi, saat melihat orang-orang beraktifitas dan bekerja keras di perusahaan, toko, di pasar-pasar, ladang dan sepanjang jalan, seakan telah menemukan siapa dirinya. Sedangkan aku kemana pergi hanya membawa nyawa. Hidup mengembang diantara arus bergulirnya waktu, terhimpit dunia yang menyesakkan dada hanyut entah sampai di mana?
Saat ketika siang terasa mentari membakar diri bagai di neraka, namun malam kujelang dengan merambah disekujur tubuh raga. Terbuang di jalanan sepi kehidupan, semua telah pergi tinggalkan aku sendiri di kegelapan malam kemana kaki melangkah seraya hampa ingin rasanya pergi jauh dan tak kembali, menyusuri sisa waktu yang ada. Dengan langkah gonta diantara hirup pikik manusia kumasuki sebuah Masjid di pusat kota agar ku dengar suara penyeru adzan di siang bolong. Di sana kusaksikan wajah-wajah teduh berbaris rapi membentuk shaf yang lurus dan rapat nyaris tiada celah. Menyatukan hati dan rasa, tak peduli semua tampak patuh pada satu komando sang iman, menyebut asma Allah lantang terdengar hampir ke seluruh penjuru bahkan sampai ke ujung sana.

Seusai sholat Dhuhur, aku duduk sejenak di antara pilar-pilar masjid yang kokoh merenung dalam-dalam dan bertanya dalam hati, aku ingin menjadi seperti siapa?
Dalam kegaulan sukma tak terasa air mata menetes lembut di wajah seolah gambaran hidup dihati hampa. Sesaat kemudian ada seorang laki-laki datang menyapa, Assalamu’alaikum .... aku menoleh pelan tak menjawab, cepat mengusap air mata. Dia ulangi lagi, Assalamu’alaikum ..... wa’alaikum salam jawabku. Dia ulurkan tangannya kami berdiri saling berjabat tangan lantas duduk kembali bersila saling berhadap-hadapan, dia sebut namanya, aku pun demikian.
Kutatap wajahnya penuh tanya.
Dia tersenyum lembut bersahaja “dari mana?” sapanya.
Dari sini saja jawabku. Aku datang dari seberang, di pusat peradaban Agama Allah SWT, kesini ingin sampaikan risalah Illahi maksud hidup sejati.
Maksud hidup sejati seperti apa? Tanyaku!
Apa engkau sudah mengenal Rabbmu? Apa engkau sudah mengenal Rasulmu?
Aku diam tak menjawab sambil menggeleng kepala
Apakah engkau ingin mencari tahu tentangnya?
Katanya lagi
Ya, aku mengangguk pelan sambil bertanya
“Aku harus menjadi seperti siapa??”
Apakah engkau tidak mempunyai siapa-siapa.
Ya, aku seorang yang tak bertahta yang telah bimbang dalam perjalanan hidup ini.
Kemana aku pergi hanya membawa nyawa.
Bukan, engkau telah memiliki sesuatu.
Tapi tampaknya engkau tak pernah tahu.
Siapa itu?? Kataku lagi!
Allah dan Rasul-Nya
Lantas laki-laki itu pergi meninggalkan aku sampai di pintu gerbang akupun beranjak untuk mengejarnya. Kupegang tangannya dari belakang dan akupun bertanya lagi. “Aku harus menjadi seperti siapa??” kataku keras.
Jadilah seperti dia
Siapa maksudmu?
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam
Bagaimana mungkin?
Ya, cintailah dia kerjakan apa yang diperintahkan dan tinggalkanlah apa yang dilarang.
Karena dia adalah kesempurnaan hidup sejati. “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah “ (QS. Al-Hasyr : 7).
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Lantas akupun berjalan mengikuti jejak rasul, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam....
○○○


TRAGEDI DI MALAM TAHUN BARU
Malam ini adalah hari penghujung tahun, sebentar lagi pukul 24.00 WIB. Aku merayakannya seperti tahun-tahun sebelumnya, pergi kepuncak bersama teman-teman merayakan pergantian tahun dengan terompet dan hura-hura.
“Ya Allah! Ririn seharusnya kamu itu intropeksi diri apa yang telah kamu lakukan selama setahun ini, sudah banyak belum yang dipersiapkan untuk bekal di akhirat nanti”, kata kak Roni, bukannya dengan hura-hura.
Sebel-sebel, sebeeeeeeel ... Mau marrrraah rasanya, lagi-lagi kak Roni melarangku untuk keluar rumah. Selang beberapa menit kemudian, kulihat suasana mulai sepi sambil berjalan pelan sampai-sampai kulepas sendalku dan berjalan mengendap-gendap hingga keluar tepat diberanda rumah. Bebas .... kuberjalan mendekati teman-teman segengku yang sejak tadi menunggu tak jauh dari rumahku.
Orang-orang mulai mengerumuni lapangan, aku dan teman-teman beridiri tepat di tengah-tengah lapangan kota. 1 ..... 2 ..... 3..... mercun mulai menghias langit bertuliskan “SELAMAT TAHUN BARU’ diiringi tiupan terompet serta sorakan ribuan orang disekitar kami. Tiba-tiba sebatang mercun jatuh tepat dihadapanku, aku mencoba menghindarinya, sesak diantara ribuat orang yang padat. Begitu pasrah, hingga terbakar tepat mengenai betisku, aku menangis dikerumunan orang, aku tak mampu berjalan lagi, teman-temanku mulai mengangkatku pulau kerumah Dilla. Setiba ku di sana aku hanya bisa menangis, kotak P3K nya mana, tidak ada. Ini bukan dirumahmu semuanya ada”, sahut Dilla, aku hanya bisa mengangguk,.
Rin .... dari pada kamu menangis kesakitan mendingan lo minum aja obat ini, biar kamu tidak kesakitan ... gue minum obat ini kalau gue ... ada banyak masalah dan dalam keadaan seperti mu”. Tanpa sadar kuambil pil-pil yang berada ditangannya, aku menelannya sebutir, ah kurang, dua butir masih kurang, akhirnya kuhabiskan semua pil yang ada dalam bungkusan itu, berharap rasa sakit ini segera hilang, oh kepalaku ... sakit .... sakit .... saking tak tertahankan aku tertidur, tidur yang panjang.
Kutatapi ruangan serba putih in, matikah aku? Ruangan berukurang 4 x 5 m ini terasa sesak buatku, kulihat papi dan mama menangis di sudut ruangan tidak berani mendekat kearahku, oh .... aku memang bukan anak kesayangan mereka. Mengapa tidak lebih banyak saja kuminum pil anjing itu biar ku mati saja, tidak ada yang memperdulikanku. Ha .... kulihat wajahnya pucat, ....... dia menangis, kak, Roni ku menangis. Karena akukah? Aku bangun tidak mengindahkan rasa sakitku dan memeluknya, aku menyesal tidak peduli akan nasehatmu, semuanya hu .... hu ....
“Aku tertidur? Tidur yang lama sekali jawabnya.
“Maafkan kak Roni, kak Roni salah ... terlalu keras denganmu, kak Roni sayang sama kamu, kak Roni ingin kamu tidak terjerumus kejalan yang salah, dan menjadi akwah saliha ... yang dekat sama Allah.”
Kini hari-hari kuisi di atas kursi roda, tubuhku lesu tak bertenaga, pil-pil itu membuatku rapuh ditambah luka bakar dikakiku serta rasa trauma yang begitu dahsyat berbekas diingatanku. Setahun sudah, aku terbangun dari kepurukan.
Hari ini adalah hari penghujung tahun, luka ku sudah sembuh namun masih meninggalkan bekas dan trauma. Seperti setahun yang lalu aku pasti merayakannya dengan terompet, hura-hura, kepuncak dan dansa-dansa, tapi hari ini .... semenjak peristiwa di rumah sakit aku lebih memaknai hidup. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan semua hal yang bermanfaat kalau diniatkan untuk Allah adalah ibadah. Subhanallahu konsep hidup yang indah, jadi aku tetap bisa bersekolah, berolahraga dan beraktifitas, lainnya karena semua itu juga akan bernilai ibadah.
“Akhwat salihah itu adalah akhwat yang mentaati Allah dan Rasulnya”
Sebulan kemudian, berita duka menyelimuti keluarga kami “Kak Roni kecelakaan saat dalam perjalanan panjang pulang, bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan”. Dugh ibu pingsang lagi.
Aku mencintaimu kak Roni, kau kakaku satu-satunya, terlalu epat engkap pergi. Kau akan slalu ku ingat, “Akhwat salehah itu adalah akhwat yang mentaati Allahdan Rasulnya.” Akan ku lakukan menjadi Akhwat salihah untukmu karena Allah. Segumpal tanah sebagai penghormatan terakhir beserta doaku. Lagi-lagi mataku mulai menganak sungai. “Selamat jalan kak Roni”.
○○○

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar